Liburan

Sunday, 4 October 2020 - 20:23 WIB

7 months yang lalu

logo

Berwisata ke Museum Etnobotani di Bogor

Keanekaragaman jenis tumbuhan yang hidup di Nusantara telah menambah kekayaan alam negeri eksotis Indonesia. Hal itu akan memberi keuntungan bila kita bisa mendayagunakan flora yang tumbuh subur di setiap pulau yang ada di negeri ini. Kita perlu mengolah dan memanfaatkan flora yang ada tersebut dengan sebaik-baiknya. Masyarakat sejak zaman dahulu telah menjadi tumbuhan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup. Namun kini hal itu sudah makin tak diperhatikan, sejalan dengan berkembangbnya teknologi yang mempengaruhi seluruh sendi kehidupan manusia. Untuk itu museum Etnobotani Indonesia ini ada, disini didokumentasikan segala hal tentang tumbuhan yang nyaris ditinggalkan.

Etnobotani sendiri merupakan cabang dari ilmu tumbuh-tumbuhan yang mempelajari hubungan antar suku asli suatu daerah dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Etnobotani juga mempelajari asal muasal suatu tumbuhan, penyebarannya dan penggalian potensinya sebagai sumber kebutuhan hidup masyarakat. Dengan mengunjungi museum Etnobotani ini, selain menambah pengetahuan kita tentang keanekaragaman tanaman yang ada di negeri ini. Kita juga jadi semakin mengetahui, kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan khususnya yang berhubungan dengan dunia tanaman.

Apa saja di Museum Etnobotani Indonesia ?

Secara umum, museum Etnobotani Indonesia ini memberi pelajaran tentang proses pemanfaatan tumbuhan oleh berbagai suku yang ada di Indonesia. Ditempat ini akan membuka mata kita tentang hubungan antara tumbuhan dan kebudayaan yang ada di Nusantara. Interaksi dari kedua hal tersebut melahirkan kreativitas dan daya cipta yang luar biasa.

Koleksi yang dipamerkan di museum ini disusun berdasarkan jenis dan pemanfaatannya, terdapat lebih dari 1.700 koleksi benda-benda yang berasal dari tumbuhan dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada koleksi kayu, bambu, aren, labu, pakaian suku pedalaman, alat pertanian, alat musik dan alat bermain anak-anak.

Dari sana kita akan dibuat terkesima tentang betapa hebatnya orang zaman dahulu menyulap berbagai jenis tumbuhan di sekitar mereka untuk kepentingan hidup sehari-hari mereka. Pohon arena misalnya, dikenal sebagai pohon yang serba guna. Dari tandan bunganya, kita bisa memperoleh gula, cuka dan minuman. Buah aren (kolang kaling) adalah sumber makanan yang lezat. Bagian injuknya dapat dijadikan untuk atap rumah, tulang anak daun aren dapat dijadikan sapu lidi, daun muda sebagai pembungkus tembakau, umbutnya dapat dimakan dan batangnya mengandung sagu.

Contoh lain tumbuhan yang memiliki peran erat di kebudayaan kita adalah pohon palem. Ia bisa dimanfaatkan untuk beraneka ragam keperluan, tergantung pada budaya dan pengetahuan yang dimiliki suku yang bersangkutan. Di ruangan museum etnobotani ini diperagakan juga contoh kerajinan tradisional yang terbuat dari pohon palem, seperti tikar, cemeti, tongkat dan tali pukulan yang semuanya terbuat dari batang pohon palem. Sementara daunnya dianyam untuk dibuat topi dan keranjang.

Selain untuk sandang dan perkakas, banyak jenis tumbuhan yang bisa diolah menjadi obat dan ramuan untuk menjaga kesehatan. Pengetahuan akan tumbuhan berkhasiat sudah dikenal nenek moyang kita sejak zaman purba. Pengetahuan tersebut diwariskan turun temurun hingga sekarang. Pada awalnya, pengetahuannya itu diperoleh melalui pengamatan terhadap perilaku binatang yang selalu makan tumbuhan tertentu. Naluri itulah yang secara alamiah dipercaya manusia zaman dahulu untuk menemukan ramuan tradisional dalam bentuk jamu yang hingga saat ini digemari masyarakat. Karena terbuat dari bahan-bahan alami, ramuan tradisional ini biasanya sangat minim efek sampingnya.

Ada banyak sekali barang-barang unik yang dibuat dari tumbuhan di pajang disini. Mungkin beberapa benda yang dikoleksi disini belum pernah anda lihat sebelumnya, karena benda tersebut menjadi ciri khas salah satu suku tertentu yang ada di Indonesia. Misalnya saja sebuah kentongan yang dibuat dari kayu pohon nangka dan durian yang bagian atasnya dibuat seperti kepala seorang prajurit. Kentongan ini menjadi alat komunikasi yang telah digunakan sejak zaman kerajaan di indonesia.

Sejarah Museum Entobotani

Pendirian museum ini bermula dari gagasan Prof. Sarwono Prawirohardjo yang ingin mengumpulkan hubungan kebudayaan Indonesia dan tanaman.. Pada tahun 1962, Prof. Sarwono Prawirohardjo melakukan peletakan batu pertama, mengawali proses pembangunan gedung museum ini. Awalnya gedung tersebut hanyalah sebuah gedung yang digunakan untuk mengumpulkan spesimen. Dalam perjalanannya Dr. Setijati Sastrapradja, Direktur LBN (Lembaga Biologi nasional) mengembangkan keberadaan gedung tersebut. Tahun 1973, untuk pertama kalinya muncul ide untuk mendirikan museum, yang disempurnakan oleh Setjadi. Pada Mei 1982, Museum etnobotani Indonesia diresmikan oleh Prof. Dr. Ing. Bj. Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi.

Lokasi dan Harga Tiket

Museum ini masih berada di sekitar Kebun Raya Bogor, yaitu di Jl Ir. Kh Juanda No. 22 Bogor. Untuk memasuki museum ini, anda dikenakan biaya yang sangat murah, yaitu hanya 3 ribu rupiah saja per orangnya. Museum ini buka dari hari senin sampai dengan sabtu, pada senin hingga kamis ia buka pukul 8 pagi hingga 4 sore. Di hari jumat dan sabtu, museum ini hanya buka selama jam yaitu pukul 8 pagi hingga 11 siang. Jika ada sekolah atau universitas yang melakukan study tour disini, museum juga bisa buka di hari minggu tergantung dengan perjanjian dengan pengelola.

Berkunjung ke museum ini benar-benar akan menambah wawasan para pengunjungnya tentang hubungan antara tanaman dengan kebudayaan yang ada di Indonesia. Sehingga setelah berkunjung ke museum Etnobotani, diharapkan kita semakin bersahabat dengan tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar kita. Tempat ini memang sangat cocok dijadikan wisata keluarga, khususnya apabila anda berlibur bersama anak anda yang masih berusia dini. Kita perlu mendidik anak kita yang masih kecil untuk bisa bersahabat dengan lingkungan, salah satunya dengan cara mengedukasinya untuk berkunjung di museum yang bertemakan alam seperti disini.

Artikel ini telah dibaca 1825 kali

Baca Lainnya